مَعْقِلُ بْنُ يَسَارٍ قَالَ كَانَتْ
لِي أُخْتٌ تُخْطَبُ إِلَيَّ فَأَتَانِي ابْنُ عَمٍّ لِي فَأَنْكَحْتُهَا
إِيَّاهُ ثُمَّ طَلَّقَهَا طَلَاقًا لَهُ رَجْعَةٌ ثُمَّ تَرَكَهَا حَتَّى
انْقَضَتْ عِدَّتُهَا فَلَمَّا خُطِبَتْ إِلَيَّ أَتَانِي يَخْطُبُهَا
فَقُلْتُ لَا وَاللَّهِ لَا أُنْكِحُهَا أَبَدًا قَالَ فَفِيَّ نَزَلَتْ
هَذِهِ الْآيَةُ { وَإِذَا طَلَّقْتُمْ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ } الْآيَةَ قَالَ فَكَفَّرْتُ عَنْ يَمِينِي فَأَنْكَحْتُهَا إِيَّاهُ
2087. Diriwayatkan
oleh Ma'qil bin Yasar, dia berkata, "Saya punya seorang saudara
perempuan yang telah dipinang, kemudian datang kepada saya anak paman
saya, maka saya nikahkan adik saya tersebut dengannya. Setelah itu ia
menceraikannya dengan talak raj'i, namun ia tidak merujuknya sampai
selesai masa iddahnya. Ketika adik saya dipinang, ia datang lagi untuk
meminangnya. Maka saya katakan, 'Demi Allah, saya tidak akan menikahkan
kamu dengannya selamanya.' Kemudian Ma'qil berkata, 'Maka turunlah ayat
ini, "Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya,
maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka untuk kawin lagi
dengan calon suaminya. " (Qs. Al Baqarah(2): 232) Setelah itu, saya
membayar kafarat terhadap sumpah saya tersebut, lalu saya nikahkan adik
saya dengannya. "(Shahih: B
ukhari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar